RSS

Gadis Kecil



Gadis kecil,
Setiap angin menghempaskan diri
Dan kau tertawa
Setiap kedua matamu menyipit, ikut tertawa
Setiap kali rambutmu tersibak kuat
Kau seperti kehilangan fokus

Kau melupakannya;
bahwa kau harus menarik benangnya kuat-kuat!

Soalan perih di kedua tanganmu, ternyata
kau juga melupakannya.



Layang-layang

Angin, bawa saja dia sesukamu
Aku senang melihatnya meliuk-liuk
Bebas, lepas
Riang berkelepak
Seolah bercengkrama dengan burung-burung yang melintasi langit
Saling kejar, lalu tertawa
Lamat-lamat aku dapat mendengarnya

Angin, tetap saja jangan kau jauhkan dari pandanganku
Aku akan menarik benang yang kulilitkan di tangan,
agar kau tak membawanya terlalu jauh
agar dia tak meninggalkanku terlalu bebas

Aku akan mengulur benangnya lagi,
agar kau masih dapat bermain dengannya
agar dia tak kesepian, tentu
jika hanya ada aku

Angin, ini hanya pintaku;
Ketika benang yang melilit tanganku putus,
Ketika kuacungkan kedua lenganku,
tolong kembalikan dia
Jangan kau membawanya terlalu jauh
Sekali lagi:
Jangan kau bawa terlalu jauh!

Karena Aku Wanita (1)



“ Karena wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan laku agung”

Karena aku wanita. Makhluk yang katanya gemar membolak-balikkan keadaan. Pernyataan itu tidak benar, yang kadang-kadang bisa hampir benar, juga bisa menjadi benar. Semuanya bergantung perasaan. Bergantung hati. Bergantung -kamu-. Ah, wanita memang makhluk perasa.
Ketika sesuatu yang disebut perasaan lebih condong pada suatu keadaan yang kemudian ‘buktinya’ tidak sesuai kenyataan, maka sebenarnya dia mencium bau tidak beres dari -kamu-.

Misal ketika hati kecilku mengatakan ‘kamu ga boleh’, tetapi karena aku tahu betul -kamu- menginginkannya, maka aku lebih memilih mengatakan yang sebaliknya. ‘Iya sayang, silahkan, boleh, monggo’. Itu jauh lebih baik dari didiamkan semalaman tanpa kabar; Salah satu reaksi yang mungkin muncul ketika aku menginginkan yang  tak -kamu- inginkan atau tidak menginginkan yang -kamu- inginkan. Sungguh itu jauh lebih baik. Jauh melegakan.

Misal juga ketika aku mengatakan ‘terserah’, terkadang maksudnya bukan berarti membiarkanmu bebas melakukan apapun. Alasannya karena aku tidak begitu suka disebut sebagai tukang ngatur, maka memang kata paling tepat adalah ‘terserah’. Terserah apapun yang menurut -kamu- baik, lakukan saja.

Dan setelah aku mengenal -kamu-, aku bisa lebih berdamai dengan hal-hal seperti itu. Daripada aku didiamkan semalaman, lebih baik mengatakan sesuatu yang ingin -kamu- dengarkan bukan? Membohongi diri sendiri? Itu bukan masalah lagi ketika ternyata tak dipedulikan lebih tidak enak untuk dinikmati sendirian.



Salira

Tiba-tiba teringat sepenggal lagu yang sering ibu nyanyikan di rumah. Untuk "salira" yang selalu menuai segala rasa. Yang dikala Oktober ini selalu "manis" mengajarkanku arti kesabaran dan mengakui kesalahan. Yang tanpa disengaja, membuatku mau mengalah, mau menangis, mau bertahan, mau terus menyayangi, mau berkorban, mau mencinta, mau menahan keluhan. Meskipun ternyata setiap mau-ku tidak selalu berjalan mulus. Karena aku wanita, dan terkadang aku ingin dimengerti lebih dari biasanya. Karena aku wanita, dan aku seperti wanita lainnya punya indera "perasa" yang lebih sensitif dari kalian kaum adam. Karena aku wanita, karena aku calon isteri, calon ibu, ternyata aku harus belajar bagaimana menyembunyikan rasa tidak enak yang menyerangku seketika, belajar bagaimana mengontrol emosi agar pasangan yang kelak disebut-sebut sebagai suami dapat merasa nyaman bersama kita. Terimakasih, karena "salira" sudah mau membiasakan diri denganku yang seperti ini. Terimakasih juga karena "salira" mau menunjukan segala sisi dari dirimu agar kelak jika aku menjadi istrimu, aku tak perlu kaget lagi. Terimakasih segalanya. Karena "salira", lelaki yang aku inginkan untuk mendampingi hidupku.

"Beurang na lamunan
mun peuting dina impian
teu weleh ngagoda
ngahias amparan rasa
nyanding dina dada
mung aya ukur salira
keur salamina"

Yang (Harus) Lenyap

Wahai, sesuatu yang sewajarnya aku jenuhi
Coba  fikirkan lagi, lagi, dan lagi
Bagaimana kamu bisa tetap hadir?
Meski semampuku sudah bermeter-meter meninggalkanmu di kedalaman sana.
Berharap sesuatu menghabisimu disana
Atau sesuatu lainnya membawamu semakin jauh dari permukaan.
Atau mungkin kamu dengan jurusmu dapat menghilang dan lupa mantra kembali.
Atau ada seseorang membantu memapahku menjauhimu, lalu dengan senyumnya yang menawan; serta merta aku dapat terbang, menunjukkan dua sayapku yang rupawan dan lalu mengelilingimu.

Menyuruhmu dengan lembut; hancur!

Oh, kau…apapula yang malah membuatmu mengapung, melesat jauh dari permukaan, dan menari-nari indah di hamparan biru yang lain?
Dan lihat, betapa lancangnya kau!
Kau mengepakkan kedua sayapmu yang pincang?

Seketika sayap-sayapku rontok; terbagi menjadi ratusan keping, berserakan dan berkilauan.


September 2014

Mati, terang, temaram

Mengapa lambat laun lampu yang kau hidupkan semakin temaram?
Anehnya, di ruangan yang aku tempati, lampu yang aku hidupkan beberapa saat lalu, terangnya semakin menjadi. Lebih terang dari yang dulu pertama kali kau lihat. Beda sekali denganmu bukan? Semakin terang tetapi sungguh menyilaukan mata. Aku harus terpaksa menyipit, atau aku akan menangis.
Bagaimana kamu bisa membuatnya menjadi temaram? Sepertinya ruanganmu lebih sejuk dari yang kupunya, iyakah? Ayolah.... Ajari aku membuatnya menjadi temaram! Agar aku bisa sepertimu; menyembunyikan segalanya di balik ke-temaram-an yang kau punya.

Sepasang Mata Itu (1)

Sepasang mata itu. Ada kesedihan menggelayut disana.

Mereka ialah para pencari sepi; Yang berlari dari daratan menuju tepi, meraih dayung dan mendayung perahunya sendirian. Pelan. Mengambang diantara sekian juta volume air yang juga diam. Menghujani air dengan air lain yang bersumber dari keduanya. Terisak. Lalu isakkannya tersamarkan suara kecipak kecipuk dayung. Hening. Mereka hanya butuh dua tangan itu. Dua tangan yang dengan sendirinya harus mengeringkan sudut-sudut yang masih lembab. Segera. Sebelum sampai di seberang di tepi yang lain.