RSS

Biarlah

Hanya karena kamu yang terlalu menyenangi mengenang tentang dia. Jadi jangan salahkan aku jika diam ini menjadi pilihan.

Apa terlalu sayangnya hingga kamu tak sampai hati meninggalkannya begitu saja? Kalau kamu tak tega membuangnya, coba cari tempat paling aman agar hati yang seperti aku punya, tak kesakitan. Kalau tempat paling aman itu ialah hatimu, coba saja simpan disana. Biarlah. Biarlah aku menjadi orang tak tahu diri yang akan mencoba tahu diri. Mendoakan kebahagiaan untukmu.

Saat ini > Hari kemarin

Aku jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. Saat ini, lebih dari hari yang kemarin, begitu seterusnya. Meskipun yang aku dapatkan hanya ke-entah-an, esok lusa yang katanya tak menyerupa. Tetapi semoga mantraku mustajab. Meluluhkan ke-entah-an dan menguapkannya menjadi doa dan harapan.

Aku, Beliau, dan Celana Boy



Lebaran? Bagi anak kecil tertentu, lebaran itu wajib hukumnya dibelikan baju baru. Para orangtua, khususnya ibu-ibu, akan mulai sibuk mencari-cari baju lebaran untuk anaknya beberapa hari menjelang lebaran tiba. Tapi apa jadinya jika yang sibuk mencarikan adalah yang bapak-bapak?

          Aku termasuk salah satu dari beberapa kemungkinan itu. Bapakku punya tugas khusus menjelang hari lebaran tiba. Yap, membelikanku baju lebaran secara sepihak. Aku tidak pernah diberi pilihan untuk mengajukan permintaan tentang baju dengan model apa yang ingin aku pakai saat lebaran, tentang warna apa, tentang gambar apa. Tidak pernah. Aku hanya bisa berharap-harap cemas dan menebak-nebak baju seperti apa yang akan aku dapatkan nanti. Eh, apa anak kecil memang hanya terima jadi saja?
Beberapa kali lebaran, saat aku belum mengenal bangku sekolah, aku dibelikan celana oto. Begitulah jenis celana itu terkenal di daerah kami. Biasanya bahannya dari jeans. Jika celana pada umumnya, di bagian depannya hanya sampai sebatas pinggang saja, maka celana oto ini memiliki penutup dada yang dihubungkan dengan kancing. Kancing tersebut lalu akan dipasangkan dengan cantolan besi yang diikatkan pada tali dari bagian belakang celana. Aih, sulit sekali menjelaskannya. Semoga penjelasan rumitku bisa dibayangkan para pembaca. *hehehehe
Aku punya dua celana oto pada waktu itu. Satu berwarna abu dan satu lagi biru tua. Yang abu, dipasangkan dengan kaos merah dengan begitu banyak sablonan di bagian depannya. Dari bentuk lengannya, aku cukup berlega hati karena itu tidak mungkin didesain untuk anak laki-laki, meskipun celananya memang terlihat sangat macho. Tapi toh aku masih sering disebut cantik pada waktu itu. *hehehe
Yang biru tua, di sisi kanan kiri nya terdapat gambar boneka panda gendut dengan motif garis-garis horizontal berwarna putih. Lucu sekali. Dipasangkan dengan baju berwarna pink tua dengan gambar laki-laki dewasa memegang tongkat golf hendak memukul bola dan karet melingkari kedua bagian lengan baju tersebut. Yap, itu tidak terlihat macho sama sekali. Aku bahkan berani foto studio pertama kali mengenakan pasangan baju itu. Aih, beliau memang istimewa. Memilihkan baju-baju itu, beberapa tahun lalu, dan aku masih bisa dengan jelas mengingatnya di usia 21 tahunku ini.
          Kemudian, lebaran ke sekian, entah darimana aku bisa begitu terjerumus. Beberapa hari menjelang lebaran datang, aku ditawari seorang pedagang langsung datang ke rumah. Yap, aku mudah sekali terbujuk. Aku terbujuk untuk memiliki baju berkerah cokelat hitam itu. Dan lebih parahnya, aku juga terbujuk membeli celana jeans panjang bertuliskan “Boy”. Aku baru tahu belakangan dari bibi-bibiku, kalau “Boy” itu artinya laki-laki. Kenyataan yang cukup membuat dadaku sesak. T.T
Mamah sudah menjelaskan berulang kali kalau pakaian itu lebih bagus untuk anak laki-laki, bla bla bla, sampai ke penjelasan tentang reaksi yang akan dihasilkan beliau. Kalau beliau tau, beliau akan langsung memarahiku atau sejenisnya seperti meledek, mencibir, dsb. Ternyata benar, setelah beliau tau, beliau hanya meledek dan membanggakan diri kalau pilihannya selalu lebih bagus.
          Oke, demi menghindari ejekan-ejekan bibi-bibiku, baju itu hanya dipakai satu-dua kali saja selama itu. Setelah itu, aku amankan di lemari dan berharap segera mendapat adik laki-laki. Tapi apa yang terjadi? Beberapa tahun kemudian, setelah adikku tumbuh besar, dia yang laki-laki saja enggan mengenakan pakaian itu. Yaampun, betapa malunya aku, dulu aku yang seorang perempuan pernah dengan PD nya berkeliaran di luar rumah mengenakan baju berwarna gelap berkerah dan celana jeans gelap bertuliskan “Boy”. :D


'Ini'



          Entah sampai umur ke berapa aku akan berhenti menamai ‘ini’ dengan sebutan merepotkan. Sampai kapanpun aku pasti selalu merepotkan kalian, tapi pada batas tertentu, merepotkan yang aku maksud mungkin akan hanya tinggal kenangan. Tinggal nama. Hanya tinggal menyaksikan gelak tawa kalian ketika mengenang betapa sulitnya menjalani waktu sampai di saat itu. Semoga.
          Mengapa aku tidak bisa se-leluasa yang lainnya terhadap kalian? Padahal, jujur saja, kalianlah yang pertama akan aku cari saat aku mendapatkan kebahagiaan dan kesedihan. Boleh dikatakan, kalian adalah tempat aku bergantung di dunia. Kalian adalah sumber kehidupan. Tanpa kalian, bahkan saat ini aku tak akan bisa menuliskan ini. Tapi, ada yang selalu aku sembunyikan dari kalian. Menunggu sampai rasanya tak biasa lagi, menunggu sampai ‘ini’ memuncak dan memanas di kepala, menunggu sampai aku sungguh tak bisa menahannya, barulah aku sanggup menuturkannya kepada kalian.
          Ingin rasanya hari ini kujumpai kalian. Mengadu betapa sakitnya menahankan rindu kepada kalian. Betapa perih juga memendam ‘ini’ sendirian. Betapa kesulitannya menyugestikan agar air mata ini tidak lantas jatuh begitu saja. Tapi jujur saja, aku tidak bisa menahan ‘ini’ sendirian. Aku ingin berbagi. Tetapi kepada siapa? Kepada kalian? Ada saat dimana aku harus terpaksa berbagi ‘ini’ kepada kalian. Tolong, tolong maafkan aku karena lagi-lagi aku tak bisa mendapatkan tempat bergantung lain selain kalian. Tidak ada. Aku, aku sepertinya terpilih seperti ini sejak kecil. :)

Bagaimana jika?

Kamu sudah tau bukan? Aku amat senang berhayal. Seperti sudah tersedia kanvas dan tinta di dalamnya, aku tinggal menggambarkan semauku. Itu sudah jadi kebiasaanku sejak kecil. Bagaimana bisa dua buah ikat rambut yang ku pasangkan di kedua lengan boneka panda-ku dulu, tiba-tiba bisa berubah menjadi sebuah gaun? Bagaimana bisa bunga cabe yang ku pasangkan di lidi bisa kelihatan seperti sebuah topi bundar? Belum lagi, botol-botol bedak bayi yang ku punya, sering aku anggap sebagai microphone.  Aih, tapi itu masa kecil. Anak kecil memang gemar sekali berhayal. Sepertinya.

Aku pernah melihat begitu banyak balon keluar dari gumpalan awan. Mereka berterbangan saling kejar. Aku melihat salah satu diantaranya berwarna air. Bening. Bukankah aku pernah memintamu mencarikannya ya? Sepertinya dia terbang jauh entah mendarat atau meledak dimana. Kamu mungkin akan kesulitan mendapatkannya atau bahkan tak akan pernah menemukannya. Tetapi motif hati nya jatuh tepat disini. Sudahlah, aku hanya bergurau. Mana mungkin awan melahirkan balon-balon? Itu hanya sebagian dari mimpi indah yang pernah terjadi, dan mungkin saja sebelumnya sempat aku hayalkan.

Aku juga pernah melihat pasir berwarna langit terik. Biru. (Warna yang kamu suka bukan? Warna yang sering dia pakai juga bukan? hehehe) Butirannya tidak halus, persis pasir-pasir pantai di daerah Gunung Kidul. Aku belum pernah merasakan salju. Tetapi sudah dapat aku pastikan, ketika aku pegang, rasa dinginnya itu serupa dingin salju. Di sekelilingku, ada rumah kayu, cantik sekali. Aku juga melihat kuda jantan berwarna coklat berdiri di hadapanku. Aku melihat wanita itu duduk diatas kuda yang juga kamu tunggangi. Siapa dia? Aku yakin dia bukan ibumu. Hahaha sudahlah, lagi-lagi aku bergurau. Ide cerita ini aku dapatkan dari mimpiku beberapa saat lalu.

Aku pernah mencoba mengetuk pintu si pemilik nama. Dia enggan sekali bersuara apalagi membukanya. Padahal aku tau dia masih ada di dalam. Aku sudah mencoba mendobraknya. Nihil. Didobrak saja sulit, apalagi mungkin kalau aku memintanya secara halus untuk keluar. Kamu tidak menolongku sedikitpun. Emmm untuk yang ini, aku sedikit enggan bergurau.

Bagaimana......jika......di kehidupan yang nyata nya, memang masih seperti itu? hehehe

Aku-Beliau-Dia



Kemarin sore, aku menghabiskan sekitar lebih dari satu jam berpindah-pindah rak buku. Mencari buku-buku yang bisa dibaca tanpa harus membelinya lebih dulu, kemudian mengutip kalimat-kalimat bagus yang biasanya ada di bagian jilid paling belakang. Beberapa kali aku tersenyum sendiri, merasakan penulisnya jahil menyindirku. Saat mataku lelah mengejar-ngejar untaian huruf dalam buku-buku yang aku baca, aku bisa sedikit “mengistirahatkannya” beberapa detik. Memejamkan mata, lalu menghirup aroma khas kertas dengan sedikit mengibaskannya ke arah hidung. Terkadang wanginya memberi efek menenangkan. Ya, itulah salah satu kesenanganku berada di toko buku, selain juga bisa menghabiskan waktu bersama dia. *hehehe
Tiba-tiba saja mataku tertuju pada beberapa novel yang berjejer rapi di hadapanku, aku meraihnya satu yang kebetulan tidak dibungkus plastik. Aku lupa judulnya, tapi yang jelas buku itu mengisahkan tentang cinta di balik ketegasan seorang ayah yang kadang dianggap tak nampak. Aku hanya sempat membacanya beberapa halaman saja, sebelum akhirnya dia berhasil menggodaku mencari-cari lagi novel-novel bersampul unik.
Di tengah ke-khusyuk-anku membaca novel ayah itu, tiba-tiba “yang terbaik bagimu”nya Ada Band melantun entah dari lantai berapa. Aku tersenyum. Dalam batin aku bergumam: “Sejak awal sampai di tempat ini, lagu-lagunya tidak ada yang tak enak didengar.” Saat itu juga aku sibuk mencari-cari dia, ingin bercerita tentang beliau yang tiba-tiba saja menyapaku dalam ingatan. Halaman yang aku baca tengah menceritakan seorang ayah yang selalu memasang tampang cool saat teman laki-laki atau sebut saja pacar dari putrinya bertamu ke rumah. Berpura-pura tidak peduli, padahal sesekali seorang ayah akan mengintip ke ruang tamu memastikan putrinya baik-baik saja. Lagi-lagi aku tersenyum. Di tengah keramaian toko buku itu, mana mungkin aku bisa menangis?
Saat itu aku tidak bisa menangis sama sekali. Padahal ketika menuliskan ulang ke dalam tulisan ini, aku bisa menangis. Sangat bisa. Ingin sekali rasanya aku mengenalkan dia kepada beliau, begitupun sebaliknya. Setidaknya, meskipun beliau tidak mengucapkan kata persetujuan, aku bisa membaca wajah teduhnya. Iya atau tidak. Boleh atau jangan. Sungguh aku merindukan wajah teduh itu. Wajah yang ketika lelah menghampiri, matanya berubah sayu, mengisyaratkan aku untuk tidak berulah. Wajah yang ketika hujan datang, mengajakku duduk di teras depan menikmati gemerciknya air dan menyanyikan lagu andalannya. Wajah yang ketika pulang kerja mendapati anaknya tengah bermain Barbie, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Wajah mengantuknya saat menemani anak manja nya ngaji subuh di bulan Ramadhan dulu. Wajah penuh kasih sayangnya saat tengah malam anaknya sering terbangun karena sesak nafas. Wajah pura-pura nya ketika anaknya minta digendong sewaktu pulang ngaji dulu. Wajah yang ketika anaknya mengenalkan teman laki-lakinya………………………………………………………

Jangan ucapkan selamat tinggal



Dan kamu
Yang tiba-tiba hadir dengan keraguan itu
Mencoba mengisi bagian kosong, lalu kamu berhasil
Keberhasilan yang pada mulanya aku simpan diam-diam
Berharap kamu segera menyalakan radar
Atau aku yang mematikan radar
Atau kita yang tak usah mengingat “radar”?

Dan kamu
Yang dengan cepat mengisi bagian itu
Bagian yang setelah kedatanganmu….aih, tak bisa dilukiskan
Aku tak dapat lagi bersembunyi dari kamu
Diammu itu, bagiku tetap bersuara
Aku hanya perlu bertanya apapun
Atau aku tak usah mempertanyakan apapun sampai kamu bertanya dan menjawab apapun?

Dan kamu
Yang kini menjadi sepenggal kisah yang tak ingin aku sudahi
Bagian ini, semoga kamu tetap bersemayam disana
Kita sudah saling mengucap selamat datang
Lalu aku begitu menyenangi pintu-pintu yang kamu buka
Maka tersenyumlah saja kamu..
Jangan ucapkan selamat tinggal :)