Hanya karena kamu yang terlalu menyenangi mengenang tentang dia. Jadi jangan salahkan aku jika diam ini menjadi pilihan.
Apa terlalu sayangnya hingga kamu tak sampai hati meninggalkannya begitu saja? Kalau kamu tak tega membuangnya, coba cari tempat paling aman agar hati yang seperti aku punya, tak kesakitan. Kalau tempat paling aman itu ialah hatimu, coba saja simpan disana. Biarlah. Biarlah aku menjadi orang tak tahu diri yang akan mencoba tahu diri. Mendoakan kebahagiaan untukmu.
Saat ini > Hari kemarin
Diposting oleh
Tita Nurlaila
on Rabu, 11 Juni 2014
/
Comments: (0)
Aku jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. Saat ini, lebih dari hari yang kemarin, begitu seterusnya. Meskipun yang aku dapatkan hanya ke-entah-an, esok lusa yang katanya tak menyerupa. Tetapi semoga mantraku mustajab. Meluluhkan ke-entah-an dan menguapkannya menjadi doa dan harapan.
Aku, Beliau, dan Celana Boy
Diposting oleh
Tita Nurlaila
on Selasa, 03 Juni 2014
/
Comments: (2)
Lebaran?
Bagi anak kecil tertentu, lebaran itu wajib hukumnya dibelikan baju baru. Para
orangtua, khususnya ibu-ibu, akan mulai sibuk mencari-cari baju lebaran untuk
anaknya beberapa hari menjelang lebaran tiba. Tapi apa jadinya jika yang sibuk
mencarikan adalah yang bapak-bapak?
Aku termasuk salah satu dari beberapa
kemungkinan itu. Bapakku punya tugas khusus menjelang hari lebaran tiba. Yap,
membelikanku baju lebaran secara sepihak. Aku tidak pernah diberi pilihan untuk
mengajukan permintaan tentang baju dengan model apa yang ingin aku pakai saat
lebaran, tentang warna apa, tentang gambar apa. Tidak pernah. Aku hanya bisa berharap-harap
cemas dan menebak-nebak baju seperti apa yang akan aku dapatkan nanti. Eh, apa
anak kecil memang hanya terima jadi saja?
Beberapa kali lebaran, saat aku belum mengenal
bangku sekolah, aku dibelikan celana oto.
Begitulah jenis celana itu terkenal di daerah kami. Biasanya bahannya dari jeans.
Jika celana pada umumnya, di bagian depannya hanya sampai sebatas pinggang saja,
maka celana oto ini memiliki penutup
dada yang dihubungkan dengan kancing. Kancing tersebut lalu akan dipasangkan
dengan cantolan besi yang diikatkan pada tali dari bagian belakang celana. Aih,
sulit sekali menjelaskannya. Semoga penjelasan rumitku bisa dibayangkan para
pembaca. *hehehehe
Aku punya dua celana oto pada waktu itu. Satu berwarna abu dan satu lagi biru tua. Yang
abu, dipasangkan dengan kaos merah dengan begitu banyak sablonan di bagian
depannya. Dari bentuk lengannya, aku cukup berlega hati karena itu tidak
mungkin didesain untuk anak laki-laki, meskipun celananya memang terlihat
sangat macho. Tapi toh aku masih
sering disebut cantik pada waktu itu. *hehehe
Yang
biru tua, di sisi kanan kiri nya terdapat gambar boneka panda gendut dengan
motif garis-garis horizontal berwarna putih. Lucu sekali. Dipasangkan dengan
baju berwarna pink tua dengan gambar laki-laki dewasa memegang tongkat golf
hendak memukul bola dan karet melingkari kedua bagian lengan baju tersebut. Yap,
itu tidak terlihat macho sama sekali. Aku bahkan berani foto studio pertama
kali mengenakan pasangan baju itu. Aih, beliau memang istimewa. Memilihkan
baju-baju itu, beberapa tahun lalu, dan aku masih bisa dengan jelas
mengingatnya di usia 21 tahunku ini.
Kemudian, lebaran ke sekian, entah
darimana aku bisa begitu terjerumus. Beberapa hari menjelang lebaran datang,
aku ditawari seorang pedagang langsung datang ke rumah. Yap, aku mudah sekali
terbujuk. Aku terbujuk untuk memiliki baju berkerah cokelat hitam itu. Dan
lebih parahnya, aku juga terbujuk membeli celana jeans panjang bertuliskan “Boy”.
Aku baru tahu belakangan dari bibi-bibiku, kalau “Boy” itu artinya laki-laki.
Kenyataan yang cukup membuat dadaku sesak. T.T
Mamah
sudah menjelaskan berulang kali kalau pakaian itu lebih bagus untuk anak
laki-laki, bla bla bla, sampai ke penjelasan tentang reaksi yang akan
dihasilkan beliau. Kalau beliau tau, beliau akan langsung memarahiku atau
sejenisnya seperti meledek, mencibir, dsb. Ternyata benar, setelah beliau tau,
beliau hanya meledek dan membanggakan diri kalau pilihannya selalu lebih bagus.
Oke, demi menghindari ejekan-ejekan
bibi-bibiku, baju itu hanya dipakai satu-dua kali saja selama itu. Setelah itu,
aku amankan di lemari dan berharap segera mendapat adik laki-laki. Tapi apa yang
terjadi? Beberapa tahun kemudian, setelah adikku tumbuh besar, dia yang
laki-laki saja enggan mengenakan pakaian itu. Yaampun, betapa malunya aku, dulu aku yang seorang perempuan pernah dengan PD nya berkeliaran di luar rumah
mengenakan baju berwarna gelap berkerah dan celana jeans gelap bertuliskan “Boy”.
:D
'Ini'
Diposting oleh
Tita Nurlaila
/
Comments: (2)
Entah
sampai umur ke berapa aku akan berhenti menamai ‘ini’ dengan sebutan merepotkan.
Sampai kapanpun aku pasti selalu merepotkan kalian, tapi pada batas tertentu,
merepotkan yang aku maksud mungkin akan hanya tinggal kenangan. Tinggal nama. Hanya
tinggal menyaksikan gelak tawa kalian ketika mengenang betapa sulitnya
menjalani waktu sampai di saat itu. Semoga.
Mengapa
aku tidak bisa se-leluasa yang lainnya terhadap kalian? Padahal, jujur saja,
kalianlah yang pertama akan aku cari saat aku mendapatkan kebahagiaan dan
kesedihan. Boleh dikatakan, kalian adalah tempat aku bergantung di dunia.
Kalian adalah sumber kehidupan. Tanpa kalian, bahkan saat ini aku tak akan bisa
menuliskan ini. Tapi, ada yang selalu aku sembunyikan dari kalian. Menunggu
sampai rasanya tak biasa lagi, menunggu sampai ‘ini’ memuncak dan memanas di
kepala, menunggu sampai aku sungguh tak bisa menahannya, barulah aku sanggup
menuturkannya kepada kalian.
Ingin
rasanya hari ini kujumpai kalian. Mengadu betapa sakitnya menahankan rindu
kepada kalian. Betapa perih juga memendam ‘ini’ sendirian. Betapa kesulitannya
menyugestikan agar air mata ini tidak lantas jatuh begitu saja. Tapi jujur
saja, aku tidak bisa menahan ‘ini’ sendirian. Aku ingin berbagi. Tetapi kepada
siapa? Kepada kalian? Ada saat dimana aku harus terpaksa berbagi ‘ini’ kepada
kalian. Tolong, tolong maafkan aku karena lagi-lagi aku tak bisa mendapatkan
tempat bergantung lain selain kalian. Tidak ada. Aku, aku sepertinya terpilih
seperti ini sejak kecil. :)
Bagaimana jika?
Diposting oleh
Tita Nurlaila
on Sabtu, 31 Mei 2014
/
Comments: (0)
Kamu sudah tau bukan? Aku amat
senang berhayal. Seperti sudah tersedia kanvas dan tinta di dalamnya,
aku tinggal menggambarkan semauku. Itu sudah jadi kebiasaanku sejak
kecil. Bagaimana bisa dua buah ikat rambut yang ku pasangkan di kedua
lengan boneka panda-ku dulu, tiba-tiba bisa berubah menjadi sebuah gaun?
Bagaimana bisa bunga cabe yang ku pasangkan di lidi bisa kelihatan
seperti sebuah topi bundar? Belum lagi, botol-botol bedak bayi yang ku
punya, sering aku anggap sebagai microphone. Aih, tapi itu masa kecil. Anak kecil memang gemar sekali berhayal. Sepertinya.
Aku pernah melihat begitu banyak balon keluar dari gumpalan awan. Mereka berterbangan saling kejar. Aku melihat salah satu diantaranya berwarna air. Bening. Bukankah aku pernah memintamu mencarikannya ya? Sepertinya dia terbang jauh entah mendarat atau meledak dimana. Kamu mungkin akan kesulitan mendapatkannya atau bahkan tak akan pernah menemukannya. Tetapi motif hati nya jatuh tepat disini. Sudahlah, aku hanya bergurau. Mana mungkin awan melahirkan balon-balon? Itu hanya sebagian dari mimpi indah yang pernah terjadi, dan mungkin saja sebelumnya sempat aku hayalkan.
Aku juga pernah melihat pasir berwarna langit terik. Biru. (Warna yang kamu suka bukan? Warna yang sering dia pakai juga bukan? hehehe) Butirannya tidak halus, persis pasir-pasir pantai di daerah Gunung Kidul. Aku belum pernah merasakan salju. Tetapi sudah dapat aku pastikan, ketika aku pegang, rasa dinginnya itu serupa dingin salju. Di sekelilingku, ada rumah kayu, cantik sekali. Aku juga melihat kuda jantan berwarna coklat berdiri di hadapanku. Aku melihat wanita itu duduk diatas kuda yang juga kamu tunggangi. Siapa dia? Aku yakin dia bukan ibumu. Hahaha sudahlah, lagi-lagi aku bergurau. Ide cerita ini aku dapatkan dari mimpiku beberapa saat lalu.
Aku pernah mencoba mengetuk pintu si pemilik nama. Dia enggan sekali bersuara apalagi membukanya. Padahal aku tau dia masih ada di dalam. Aku sudah mencoba mendobraknya. Nihil. Didobrak saja sulit, apalagi mungkin kalau aku memintanya secara halus untuk keluar. Kamu tidak menolongku sedikitpun. Emmm untuk yang ini, aku sedikit enggan bergurau.
Bagaimana......jika......di kehidupan yang nyata nya, memang masih seperti itu? hehehe
Aku pernah melihat begitu banyak balon keluar dari gumpalan awan. Mereka berterbangan saling kejar. Aku melihat salah satu diantaranya berwarna air. Bening. Bukankah aku pernah memintamu mencarikannya ya? Sepertinya dia terbang jauh entah mendarat atau meledak dimana. Kamu mungkin akan kesulitan mendapatkannya atau bahkan tak akan pernah menemukannya. Tetapi motif hati nya jatuh tepat disini. Sudahlah, aku hanya bergurau. Mana mungkin awan melahirkan balon-balon? Itu hanya sebagian dari mimpi indah yang pernah terjadi, dan mungkin saja sebelumnya sempat aku hayalkan.
Aku juga pernah melihat pasir berwarna langit terik. Biru. (Warna yang kamu suka bukan? Warna yang sering dia pakai juga bukan? hehehe) Butirannya tidak halus, persis pasir-pasir pantai di daerah Gunung Kidul. Aku belum pernah merasakan salju. Tetapi sudah dapat aku pastikan, ketika aku pegang, rasa dinginnya itu serupa dingin salju. Di sekelilingku, ada rumah kayu, cantik sekali. Aku juga melihat kuda jantan berwarna coklat berdiri di hadapanku. Aku melihat wanita itu duduk diatas kuda yang juga kamu tunggangi. Siapa dia? Aku yakin dia bukan ibumu. Hahaha sudahlah, lagi-lagi aku bergurau. Ide cerita ini aku dapatkan dari mimpiku beberapa saat lalu.
Aku pernah mencoba mengetuk pintu si pemilik nama. Dia enggan sekali bersuara apalagi membukanya. Padahal aku tau dia masih ada di dalam. Aku sudah mencoba mendobraknya. Nihil. Didobrak saja sulit, apalagi mungkin kalau aku memintanya secara halus untuk keluar. Kamu tidak menolongku sedikitpun. Emmm untuk yang ini, aku sedikit enggan bergurau.
Bagaimana......jika......di kehidupan yang nyata nya, memang masih seperti itu? hehehe
Aku-Beliau-Dia
Diposting oleh
Tita Nurlaila
on Minggu, 11 Mei 2014
/
Comments: (0)
Kemarin sore, aku menghabiskan sekitar
lebih dari satu jam berpindah-pindah rak buku. Mencari buku-buku yang bisa dibaca
tanpa harus membelinya lebih dulu, kemudian mengutip kalimat-kalimat bagus yang
biasanya ada di bagian jilid paling belakang. Beberapa kali aku tersenyum
sendiri, merasakan penulisnya jahil menyindirku. Saat mataku lelah
mengejar-ngejar untaian huruf dalam buku-buku yang aku baca, aku bisa sedikit
“mengistirahatkannya” beberapa detik. Memejamkan mata, lalu menghirup aroma
khas kertas dengan sedikit mengibaskannya ke arah hidung. Terkadang wanginya memberi
efek menenangkan. Ya, itulah salah satu kesenanganku berada di toko buku,
selain juga bisa menghabiskan waktu bersama dia. *hehehe
Tiba-tiba saja mataku tertuju pada beberapa
novel yang berjejer rapi di hadapanku, aku meraihnya satu yang kebetulan tidak
dibungkus plastik. Aku lupa judulnya, tapi yang jelas buku itu mengisahkan
tentang cinta di balik ketegasan seorang ayah yang kadang dianggap tak nampak.
Aku hanya sempat membacanya beberapa halaman saja, sebelum akhirnya dia
berhasil menggodaku mencari-cari lagi novel-novel bersampul unik.
Di tengah ke-khusyuk-anku membaca novel
ayah itu, tiba-tiba “yang terbaik bagimu”nya Ada Band melantun entah dari
lantai berapa. Aku tersenyum. Dalam batin aku bergumam: “Sejak awal sampai di
tempat ini, lagu-lagunya tidak ada yang tak enak didengar.” Saat itu juga aku
sibuk mencari-cari dia, ingin bercerita tentang beliau yang tiba-tiba saja
menyapaku dalam ingatan. Halaman yang aku baca tengah menceritakan seorang ayah
yang selalu memasang tampang cool
saat teman laki-laki atau sebut saja pacar dari putrinya bertamu ke rumah.
Berpura-pura tidak peduli, padahal sesekali seorang ayah akan mengintip ke
ruang tamu memastikan putrinya baik-baik saja. Lagi-lagi aku tersenyum. Di
tengah keramaian toko buku itu, mana mungkin aku bisa menangis?
Saat itu aku tidak bisa menangis sama
sekali. Padahal ketika menuliskan ulang ke dalam tulisan ini, aku bisa
menangis. Sangat bisa. Ingin sekali rasanya aku mengenalkan dia kepada beliau,
begitupun sebaliknya. Setidaknya, meskipun beliau tidak mengucapkan kata
persetujuan, aku bisa membaca wajah teduhnya. Iya atau tidak. Boleh atau jangan.
Sungguh aku merindukan wajah teduh itu. Wajah yang ketika lelah menghampiri,
matanya berubah sayu, mengisyaratkan aku untuk tidak berulah. Wajah yang ketika
hujan datang, mengajakku duduk di teras depan menikmati gemerciknya air dan
menyanyikan lagu andalannya. Wajah yang ketika pulang kerja mendapati anaknya
tengah bermain Barbie, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Wajah
mengantuknya saat menemani anak manja nya ngaji subuh di bulan Ramadhan dulu. Wajah
penuh kasih sayangnya saat tengah malam anaknya sering terbangun karena sesak
nafas. Wajah pura-pura nya ketika anaknya minta digendong sewaktu pulang
ngaji dulu. Wajah yang ketika anaknya mengenalkan teman laki-lakinya………………………………………………………
Jangan ucapkan selamat tinggal
Diposting oleh
Tita Nurlaila
on Senin, 05 Mei 2014
/
Comments: (2)
Dan kamu
Yang tiba-tiba hadir dengan keraguan itu
Mencoba mengisi bagian kosong, lalu kamu berhasil
Keberhasilan yang pada mulanya aku simpan
diam-diam
Berharap kamu segera menyalakan radar
Atau aku yang mematikan radar
Atau kita yang tak usah mengingat “radar”?
Dan kamu
Yang dengan cepat mengisi bagian itu
Bagian yang setelah kedatanganmu….aih, tak bisa
dilukiskan
Aku tak dapat lagi bersembunyi dari kamu
Diammu itu, bagiku tetap bersuara
Aku hanya perlu bertanya apapun
Atau aku tak usah mempertanyakan apapun sampai
kamu bertanya dan menjawab apapun?
Dan kamu
Yang kini menjadi sepenggal kisah yang tak ingin aku
sudahi
Bagian ini, semoga kamu tetap bersemayam disana
Kita sudah saling mengucap selamat datang
Lalu aku begitu menyenangi pintu-pintu yang kamu
buka
Maka tersenyumlah saja kamu..
Jangan ucapkan selamat tinggal :)
